Air dalam berbagai bahasa adalah *de l’eau* (Perancis), *acqua* (Italia), *
maji* (Swahili), *w**asser* (Jerman), *de agua* (Spanyol), *nước*(Vietnam),
*cai* (Sunda), *banyu* (Jawa), *aia* (Padang), *lau* (Batak Karo), dan
*bah*(Batak Simalungun). Semua bahasa pasti memiliki kosakata semakna
dengan air. Semua bangsa pasti memiliki cara mengelola air. Tapi tidak akan pernah
ada yang akan mampu memiliki air.
Kita harus selalu minum air bukan karena di tubuh ini tidak ada air.
Sejatinya tubuh kita 65 persennya terdiri atas air. Tapi mengapa kita
kehausan dan membutuhkan air setiap saat? Itu semua karena kita tidak mampu
memiliki atau mempertahankan air di tubuh kita sendiri. Seberapa kuat Anda
mampu menahan buang air (besar atau kecil). Apakah Anda mampu menahan uap
air yang keluar dari setiap desahan napas? Apakah Anda mampu tidak
berkeringat? Ternyata, kita tidak membutuhkan air. Kita hanya membutuhkan
kehadiran aliran air.
Air layak minum adalah air yang memiliki derajat keasaman normal (pH 6 - 8),
tidak berasa, tidak berbau, jernih, terbebas dari kontaminan berbahaya dan
benda asing. Pengenalan lebih rinci tentang air minum, walau tidak berasa
dan tidak berbau; ternyata mengandung jumlah mineral tertentu. Jika definisi
ilmiah terlalu sulit diindera, maka cukuplah kita meneguk air yang baru
keluar dari mata air pegunungan dengan konservasi baik. Itulah salah satu
jenis air minum yang disediakan Tuhan untuk manusia di daerah tropis.
Mengapa air tawar? Kita tidak dapat menjawab pertanyaan ini dengan tuntas.
Tapi perkembangan ilmu kesehatan, biologi, dan ilmu pangan dapat menjelaskan
aspek-aspek logisnya.
Dalam reaksi-reaksi kimiawi dan biologi yang terjadi dalam sistem tubuh
kita, air memegang peranan yang sangat vital. Salah satunya adalah menjadi
media pertukaran energi, pertukaran ion, perpindahan molekul, meredam panas,
alat transportasi, dan penyeimbang tekanan osmosa. Rincian ini tidak cukup
untuk memenuhi syarat rasa bahasa kata vital. Tapi untuk menggenapkan,
cukuplah menjadi perhatian kita bahwa dehidrasi (kekurangan air dalam
sistem), merupakan penyebab kematian utama makhluk hidup (manusia termasuk
di dalamnya) di muka bumi ini, apa pun pemicunya (diare, kemarau, udara
panas, kelelahan, dll). Kesimpulan lain yang tidak kalah genting adalah
keberadaan air merupakan petunjuk pertama dugaan adanya kehidupan.
Pelajaran pengetahuan alam sekolah menengah menyimpulkan, banyak reaksi
kimia yang mensyaratkan tingkat keenceran tertentu untuk menjamin proses
reaksi berjalan dengan ideal. Dan beruntungnya, pengencer yang paling
diterima oleh banyak senyawa kimia adalah air.
Seandainya kita tidak pernah mencemari air sungai, air hujan, air
tanah, air laut, air sumur, atau air danau maka kita tidak perlu membayar
perusahaan-perusahaan pengelola air untuk mendapatkan manfaat dari air.
Bahkan mungkin mereka tidak akan pernah didirikan.
Seandainya saja kita tidak merusak hutan dan tidak menutupi permukaan
tanah, kita tidak akan membutuhkan pompa-pompa besar untuk menyedot air.
Kita tidak membutuhkan pipa-pipa berkilometer untuk menyalurkannya. Kita
tidak membutuhkan tenaga dan biaya mahal hanya sekadar untuk minum dan
mencuci.
Semua karena keteledoran, kealfaan, keserakahan, dan kekeliruan kita.
Banjir, kekeringan, ketiadaan air bersih, naiknya permukaan air laut, hujan
asam, dan segudang permasalahan terkait air disebabkan oleh tidak bijaknya
kita menyikapi zat yang paling vital bagi kehidupan kita. Kebodohan
terbesar kita adalah bersikap buruk pada pihak yang paling berjasa dalam
kehidupan kita!
Sejak zaman dinosaurus hingga zaman Facebook dan Twitter kini, jumlah air
tetap sama. Tak berkurang sepersejuta persen pun! Yang berkurang adalah
kualitasnya. Yang meningkat hanyalah pencemarannya. Yang bertambah adalah
kotoran yang kita tambahkan padanya. Yang kita rusak adalah keseimbangan
siklusnya. Karena harmoni alamiahnya kita ganggu maka kita yang harus
membayar semua konsekuensi negatifnya, termasuk membayar mahal untuk
mendapat manfaat darinya, yang pada awalnya gratis.
Ketika 'Nenek' Titik Puspa ditanya mengenai rahasia awet mudanya, salah satu
yang sangat penting adalah kebiasaan selalu minum air putih. Maka, dengan
alasan yang lebih jernih dan logis, mari kita tingkatkan budaya minum air
putih (tawar). Juga sebagai kebaikan yang tinggi dalam menyambut penuh suka
cita (syukur) atas anugerah-Nya.
"... dan Kami beri minum kamu dengan air
yang tawar" dalam Al Qur'an surat Al Mursalat (77) : 27.
Sudahkah hari ini kita minum air hari ini?
* malah kaya iklan
maji* (Swahili), *w**asser* (Jerman), *de agua* (Spanyol), *nước*(Vietnam),
*cai* (Sunda), *banyu* (Jawa), *aia* (Padang), *lau* (Batak Karo), dan
*bah*(Batak Simalungun). Semua bahasa pasti memiliki kosakata semakna
dengan air. Semua bangsa pasti memiliki cara mengelola air. Tapi tidak akan pernah
ada yang akan mampu memiliki air.
Kita harus selalu minum air bukan karena di tubuh ini tidak ada air.
Sejatinya tubuh kita 65 persennya terdiri atas air. Tapi mengapa kita
kehausan dan membutuhkan air setiap saat? Itu semua karena kita tidak mampu
memiliki atau mempertahankan air di tubuh kita sendiri. Seberapa kuat Anda
mampu menahan buang air (besar atau kecil). Apakah Anda mampu menahan uap
air yang keluar dari setiap desahan napas? Apakah Anda mampu tidak
berkeringat? Ternyata, kita tidak membutuhkan air. Kita hanya membutuhkan
kehadiran aliran air.
Air layak minum adalah air yang memiliki derajat keasaman normal (pH 6 - 8),
tidak berasa, tidak berbau, jernih, terbebas dari kontaminan berbahaya dan
benda asing. Pengenalan lebih rinci tentang air minum, walau tidak berasa
dan tidak berbau; ternyata mengandung jumlah mineral tertentu. Jika definisi
ilmiah terlalu sulit diindera, maka cukuplah kita meneguk air yang baru
keluar dari mata air pegunungan dengan konservasi baik. Itulah salah satu
jenis air minum yang disediakan Tuhan untuk manusia di daerah tropis.
Mengapa air tawar? Kita tidak dapat menjawab pertanyaan ini dengan tuntas.
Tapi perkembangan ilmu kesehatan, biologi, dan ilmu pangan dapat menjelaskan
aspek-aspek logisnya.
Dalam reaksi-reaksi kimiawi dan biologi yang terjadi dalam sistem tubuh
kita, air memegang peranan yang sangat vital. Salah satunya adalah menjadi
media pertukaran energi, pertukaran ion, perpindahan molekul, meredam panas,
alat transportasi, dan penyeimbang tekanan osmosa. Rincian ini tidak cukup
untuk memenuhi syarat rasa bahasa kata vital. Tapi untuk menggenapkan,
cukuplah menjadi perhatian kita bahwa dehidrasi (kekurangan air dalam
sistem), merupakan penyebab kematian utama makhluk hidup (manusia termasuk
di dalamnya) di muka bumi ini, apa pun pemicunya (diare, kemarau, udara
panas, kelelahan, dll). Kesimpulan lain yang tidak kalah genting adalah
keberadaan air merupakan petunjuk pertama dugaan adanya kehidupan.
Pelajaran pengetahuan alam sekolah menengah menyimpulkan, banyak reaksi
kimia yang mensyaratkan tingkat keenceran tertentu untuk menjamin proses
reaksi berjalan dengan ideal. Dan beruntungnya, pengencer yang paling
diterima oleh banyak senyawa kimia adalah air.
Seandainya kita tidak pernah mencemari air sungai, air hujan, air
tanah, air laut, air sumur, atau air danau maka kita tidak perlu membayar
perusahaan-perusahaan pengelola air untuk mendapatkan manfaat dari air.
Bahkan mungkin mereka tidak akan pernah didirikan.
Seandainya saja kita tidak merusak hutan dan tidak menutupi permukaan
tanah, kita tidak akan membutuhkan pompa-pompa besar untuk menyedot air.
Kita tidak membutuhkan pipa-pipa berkilometer untuk menyalurkannya. Kita
tidak membutuhkan tenaga dan biaya mahal hanya sekadar untuk minum dan
mencuci.
Semua karena keteledoran, kealfaan, keserakahan, dan kekeliruan kita.
Banjir, kekeringan, ketiadaan air bersih, naiknya permukaan air laut, hujan
asam, dan segudang permasalahan terkait air disebabkan oleh tidak bijaknya
kita menyikapi zat yang paling vital bagi kehidupan kita. Kebodohan
terbesar kita adalah bersikap buruk pada pihak yang paling berjasa dalam
kehidupan kita!
Sejak zaman dinosaurus hingga zaman Facebook dan Twitter kini, jumlah air
tetap sama. Tak berkurang sepersejuta persen pun! Yang berkurang adalah
kualitasnya. Yang meningkat hanyalah pencemarannya. Yang bertambah adalah
kotoran yang kita tambahkan padanya. Yang kita rusak adalah keseimbangan
siklusnya. Karena harmoni alamiahnya kita ganggu maka kita yang harus
membayar semua konsekuensi negatifnya, termasuk membayar mahal untuk
mendapat manfaat darinya, yang pada awalnya gratis.
Ketika 'Nenek' Titik Puspa ditanya mengenai rahasia awet mudanya, salah satu
yang sangat penting adalah kebiasaan selalu minum air putih. Maka, dengan
alasan yang lebih jernih dan logis, mari kita tingkatkan budaya minum air
putih (tawar). Juga sebagai kebaikan yang tinggi dalam menyambut penuh suka
cita (syukur) atas anugerah-Nya.
"... dan Kami beri minum kamu dengan air
yang tawar" dalam Al Qur'an surat Al Mursalat (77) : 27.
Sudahkah hari ini kita minum air hari ini?
* malah kaya iklan



No comments:
Post a Comment