Kalau hari ini kita masih ingat agama, dan merelakan keringat kita di
jalan-Nya, maka itu boleh jadi bukan keberhasilan kita. Kalau hari ini kita
ingat tentang tanggung jawab sesudah mati, sangat mungkin bukan karena kebaikan
yang sepenuhnya lahir dari kesadaran kita. Boleh jadi itu semua bukan merupakan
prestasi kita sendiri, melainkan justru terutama orangtua kita. Mereka menanam
benih-benihnya, lalu tumbuh mengakar di dada kita. Atau para guru kita yang
tulus menyemainya, lalu Allah kokohkan dalam hati kita.
Historia vitae magistra, sejarah adalah guru terbaik
kehidupan. Orang-orang yang mengambil pelajaran dari mereka yang
telah mendahului kita, Insya Allah akan tahu bagaimana memaknai
tugas hidup sebagai orangtua. Dari perjalanan saya ke timur dan ke barat, saya
melihat betapa tak bergunanya kebanggaan terhadap kreativitas dan kecerdasan
anak, ketika mereka tidak tahu jalan hidup
yang harus ditempuh. Bahkan ilmu agama
yang tinggi pun akan sia-sia kalau mereka tidak mempunyai harga diri yang
bersih serta tujuan hidup yang pasti. Betapa banyak anak-anak yang
memiliki keluasan ilmu agama, tetapi karena
kita salah menanamkan tujuan, mereka justru menjadi pembawa kesesatan dengan
ilmu yang ada pada dirinya.
Banyak orangtua yang berhasil mendidik anaknya bukan karena
kepandaiannya mendidik anak, tetapi karena doa-doa mereka yang tulus. Banyak
orangtua yang caranya mendidik salah jika
ditinjau dari sudut pandang psikologi, tetapi anak-anaknya tumbuh menjadi
penyejuk mata yang membawa kebaikan dikarenakan amat besarnya pengharapan
orangtua. Di antara mereka ada yang selalu membasahi penghujung malam dengan
airmata untuk merintih kepada Allah ‘Azza
wa Jalla. Di antara mereka ada pula yang menyertai langkah-langkahnya
dengan niat yang lurus dan bersih.
Di zaman ketika wibawa sebagian
ulama semakin rapuh, rasanya kita perlu menguatkan hati anak-anak kita.
Di masa ketika masjid-masjid justru sibuk mengundang artis, kita perlu
memperbanyak amal untuk memohon barakah Allah bagi kebaikan hidup kita dan
anak-anak kita. Sesungguhnya Allah yang menggenggam hati manusia.
Zaman bertukar dan dunia terus berubah. Pada masa kita kecil, alat
pengirim berita paling cepat adalah telegram. Sekarang, ketika kita belum
terlalu tua, telegram sudah tidak dipakai lagi. Telegram sudah menjadi
teknologi yang ketinggalan zaman. Sekarang melalui perangkat kecil di tangan yang bernama handphone/tablet, berita dari manca negara lengkap dengan fotonya bisa
kita akses setiap saat. Anak-anak yang masih ingusan bisa mendapatkan ilmu-ilmu
berharga lewat internet dengan kecepatan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Tetapi pada saat yang sama, lihatlah di bilik-bilik warnet itu, bagaimana sejumlah anak kaum muslimin sedang
terombang-ambing di hadapan situs-situs porno.
Kita mungkin bisa mencegah dengan kekuasaan atas anak-anak itu. Tetapi
apa yang sanggup kita kerjakan sesudah kita
tiada? Tak ada. Itu sebabnya kita mulai perlu berpikir tentang bekal buat anak-anak kita sesudah jasad terkubur
Semoga Allah kuatkan iman kita. Semoga pula Allah memperjalankan kita
dalam takwa kepada-Nya. Semoga langkah kita senantiasa berada di atas niat yang
kokoh dan tujuan yang baik. Semoga setiap langkah kita membawa kepada ridha-Nya
dan meninggalkan bekas yang mantap di hati
anak-anak dan keturunan kita, sehingga mereka senantiasa memenangkan
bisikan takwanya. Amin



No comments:
Post a Comment