Pepatah jawa mengatakan, “cinta ada karena terbiasa”. Pepatah ini sebenarnya berlaku untuk semua hal, termasuk dengan kegiatan menulis. Ketika beberapa orang (masih) menganggap bahwa menulis itu sulit, maka formula ini bisa menjadi obatnya : writing tresno jalaran seko kulino. Cinta menulis disebabkan karena kebiasaan.
Pada dasarnya, semua orang memiliki kemampuan untuk menulis. Menulis, sebagai sebuah keterampilan, membutuhkan latihan rutin secara terus menerus. Bakat dalam sebuah keterampilan memang penting, namun belum mencukupi (necessary, but not sufficient condition). Keterampilan menulis bukan hanya perlu dipertahankan, namun juga harus ditingkatkan kualitasnya.
Menulis tidak butuh bakat. Menulis membutuhkan kontinyuitas dan konsistensi. Yang penting terus dan teruslah menulis. Apapun, kapan pun, dan dimanapun. Tak perlu terbebani dengan kualitas tulisan jika memang masih dalam tahap belajar. Tak perlu malu jika dicela. Tanamkan kepercayaan diri dan tekad untuk konsisten menulis. Dua hal ini akan membuat otak kita menjadi writing oriented.
Habits is second nature, kebiasaan adalah karakter kedua. Upaya menyempatkan diri merupakan upaya aktif, bukan pasif. Semua kegiatan yang kita lakukan sebenarnya merupakan kegiatan yang kita sempatkan. Bukan kegiatan yang memberi kesempatan pada kita.
“Sibuk dan tidak ada waktu” bukan sebuah alasan untuk tidak menulis. Orang yang benar-benar sibuk justru orang yang punya banyak waktu luang untuk menulis. Sebaliknya, orang yang malas justru orang yang tidak punya waktu luang untuk menulis karena waktunya dihabiskan untuk hal-hal lain.
Semakin sering seseorang menulis, makin cepat ia menyelesaikan suatu tulisan. Anggito Abimanyu adalah contoh seorang dari banyak penulis yang mampu menyelesaikan tulisan dalam waktu singkat. Menurut pengakuan salah seorang dosen STAN, Anggito bisa menyelesaikan sebuah tulisan opini di koran dengan cepat. Tak peduli ketika ia sedang menunggu acara seminar dimulai atau menunggu di bandara ketika jadwal penerbangan di-delay.
There’s no such a thing as a free lunch. Biasakan menulis dari sekarang. Setidaknya ada dua hal yang mampu menjadi alasan kuat mengapa manusia dalam hidupnya harus menulis. Pertama, menulis adalah bagian dari ibadah sosial. Menulis adalah ibadah ilmiah, amal jariyah, yang dijanjikan oleh Alloh akan terus mengalir nilai pahalanya sampai ajal tiba kelak. Kedua, menulis adalah bagian dari perjuangan. Tidak akan pernah ada yang tahu tentang kebobrokan sistem pemerintahan Belanda yang korup andaisaja Multatuli tidak menulis novel berjudul Max Havelaar. Cerita ini mampu membentuk opini publik di Belanda untuk menentang sistem yang amat menindas rakyat Hindia Belanda sampai akhirnya mampu mengakhiri sistem tanam paksa di Jawa.
Menulis adalah sebuah pilihan hidup. Menulis bukan semata-mata hobi yang ada ketika timbul mood atau bahkan ketika ada sisa waktu. Membaca dan menulis adalah pekerjaan besar bagi orang-orang berperadaban. Gordon Smith, seorang politikus Inggris abad ke-18, membuat sebuah pernyataan yang menarik untuk disimak.
“Membaca tanpa menulis ibarat memiliki harta dibiarkan menumpuk tanpa dimanfaatkan. Menulis tanpa membaca, ibarat mengeduk air dari sumur kering. Tidak membaca dan juga tidak menulis, ibarat orang tak berharta jatuh ke dalam sumur penuh air.”
Menulis, menulis, dan menulis. Di era modern seperti sekarang ini, bukan hal yang sulit untuk membiasakan diri menulis. Gunakan blog atau notes facebook untuk mendokumentasikan tulisan. Jangan malu jika tulisan kita dibaca orang. Belum tentu tulisan yang kita anggap buruk dinilai buruk pula oleh orang lain. Pujian adalah motivasi, cacian adalah koreksi. Jadikan semuanya sebagai pembelajaran jika kita memang ingin konsisten dalam menulis.
Tak perlu terbebani untuk menulis fiksi atau nonfiksi. Konsistenlah menulis tentang apapun yang terjadi dan temui dalam kehidupan sehari-hari. Tuangkan gagasan, goreskan ide, dan tawarkan solusi atas sebuah permasalahan. Gali terus informasi agar tulisan kita mampu untuk dibaca lebih banyak orang, di koran, majalah, dan jurnal ilmiah.
Pada dasarnya, semua orang memiliki kemampuan untuk menulis. Menulis, sebagai sebuah keterampilan, membutuhkan latihan rutin secara terus menerus. Bakat dalam sebuah keterampilan memang penting, namun belum mencukupi (necessary, but not sufficient condition). Keterampilan menulis bukan hanya perlu dipertahankan, namun juga harus ditingkatkan kualitasnya.
Menulis tidak butuh bakat. Menulis membutuhkan kontinyuitas dan konsistensi. Yang penting terus dan teruslah menulis. Apapun, kapan pun, dan dimanapun. Tak perlu terbebani dengan kualitas tulisan jika memang masih dalam tahap belajar. Tak perlu malu jika dicela. Tanamkan kepercayaan diri dan tekad untuk konsisten menulis. Dua hal ini akan membuat otak kita menjadi writing oriented.
Habits is second nature, kebiasaan adalah karakter kedua. Upaya menyempatkan diri merupakan upaya aktif, bukan pasif. Semua kegiatan yang kita lakukan sebenarnya merupakan kegiatan yang kita sempatkan. Bukan kegiatan yang memberi kesempatan pada kita.
“Sibuk dan tidak ada waktu” bukan sebuah alasan untuk tidak menulis. Orang yang benar-benar sibuk justru orang yang punya banyak waktu luang untuk menulis. Sebaliknya, orang yang malas justru orang yang tidak punya waktu luang untuk menulis karena waktunya dihabiskan untuk hal-hal lain.
Semakin sering seseorang menulis, makin cepat ia menyelesaikan suatu tulisan. Anggito Abimanyu adalah contoh seorang dari banyak penulis yang mampu menyelesaikan tulisan dalam waktu singkat. Menurut pengakuan salah seorang dosen STAN, Anggito bisa menyelesaikan sebuah tulisan opini di koran dengan cepat. Tak peduli ketika ia sedang menunggu acara seminar dimulai atau menunggu di bandara ketika jadwal penerbangan di-delay.
There’s no such a thing as a free lunch. Biasakan menulis dari sekarang. Setidaknya ada dua hal yang mampu menjadi alasan kuat mengapa manusia dalam hidupnya harus menulis. Pertama, menulis adalah bagian dari ibadah sosial. Menulis adalah ibadah ilmiah, amal jariyah, yang dijanjikan oleh Alloh akan terus mengalir nilai pahalanya sampai ajal tiba kelak. Kedua, menulis adalah bagian dari perjuangan. Tidak akan pernah ada yang tahu tentang kebobrokan sistem pemerintahan Belanda yang korup andaisaja Multatuli tidak menulis novel berjudul Max Havelaar. Cerita ini mampu membentuk opini publik di Belanda untuk menentang sistem yang amat menindas rakyat Hindia Belanda sampai akhirnya mampu mengakhiri sistem tanam paksa di Jawa.
Menulis adalah sebuah pilihan hidup. Menulis bukan semata-mata hobi yang ada ketika timbul mood atau bahkan ketika ada sisa waktu. Membaca dan menulis adalah pekerjaan besar bagi orang-orang berperadaban. Gordon Smith, seorang politikus Inggris abad ke-18, membuat sebuah pernyataan yang menarik untuk disimak.
“Membaca tanpa menulis ibarat memiliki harta dibiarkan menumpuk tanpa dimanfaatkan. Menulis tanpa membaca, ibarat mengeduk air dari sumur kering. Tidak membaca dan juga tidak menulis, ibarat orang tak berharta jatuh ke dalam sumur penuh air.”
Menulis, menulis, dan menulis. Di era modern seperti sekarang ini, bukan hal yang sulit untuk membiasakan diri menulis. Gunakan blog atau notes facebook untuk mendokumentasikan tulisan. Jangan malu jika tulisan kita dibaca orang. Belum tentu tulisan yang kita anggap buruk dinilai buruk pula oleh orang lain. Pujian adalah motivasi, cacian adalah koreksi. Jadikan semuanya sebagai pembelajaran jika kita memang ingin konsisten dalam menulis.
Tak perlu terbebani untuk menulis fiksi atau nonfiksi. Konsistenlah menulis tentang apapun yang terjadi dan temui dalam kehidupan sehari-hari. Tuangkan gagasan, goreskan ide, dan tawarkan solusi atas sebuah permasalahan. Gali terus informasi agar tulisan kita mampu untuk dibaca lebih banyak orang, di koran, majalah, dan jurnal ilmiah.



No comments:
Post a Comment