Mengapa Kita Beraninya Hanya pada Malaysia? Tidak dengan Singapura
Apakah kita akan tetap “berperang” dengan Malaysia atau mempertahankan persaudaraan besar bernama “rumpun Melayu?”
Ribuan orang Indonesia sedang belajar S2 & S3 di Malaysia saat ini.
Kebanyakannya mendapat bantuan atau keringanan biaya dari pemerintah
Malaysia dan banyak juga yang sambil bekerja. Uang kuliah di perguruan
tinggi negeri Malaysia lebih murah dari Indonesia. Kualitas,
infrastruktur dan kemudahan lainnya jauh lebih baik dari di Indonesia
tentunya.
Lalu yang sangat mengherankan, isu-isu yang sebenarnya bisa diselesaikan di
tingkat diplomat, tetapi menjadi barang dagangan pasar yang dikonsumsi
oleh rakyat umum. Boleh jadi isu ini sepertinya dimanfaatkan oleh
segelintir orang yang memang memiliki agenda, bagaimana supaya Islam,
Melayu dan Nusantara yang kaya dengan SDM & SDA ini, tidak menjadi
sebuah kekuatan. Mengapa rakyat di negaraku begitu mudah emosi?
Isu-isu penangkapan Abubakar Ba‘asyir, isu VCD porno artis, isu teroris, dan
sebagainya, faktanya tidak berhasil mengalihkan perhatian rakyat
terhadap berbagai skandal perampokan uang rakyat melalui kasus BLBI,
Century, Rekening , kenaikan BBM dan harga bahan pokok di tahun 2012
buruknya birokrasi dan pelayanan publik,
maraknya korupsi, pelemahan KPK, gagalnya sebuah kepemimpinan,
meningkatnya jumlah kemiskinan, pengangguran, perbuatan kriminal, buta
huruf dan gagalnya hampir setiap departemen dan institusi pemerintahan,
dalam memberikan manfaat keberadaan mereka yang berarti kepada rakyat.
Isu “memanasnya" hubungan Indonesia-Malaysia tidak akan membuat rakyat lupa
terhadap semua penipuan, pembodohan dan “perampokan” uang rakyat yang
telah, sedang dan akan berlaku.
Kalau mau jujur, semua suku di Indonesia ada di Malaysia: Jawa, Bugis, Aceh,
Minang. Kini banyak orang Jawa di Johor, juga di Selangor. Termasuk
banyak warga Aceh di Malaysia. Negeri sembilan sebagian penduduknya dari
Minangkabau. Bahkan Sultan Selangor itu berasal dari Bugis.
Jadi seharusnya, semangat kita (Indonesia dan Malaysia) adalah semangat
“satu rumpun” untuk bekerjasama untuk bangunkan alam Melayu ini. Hanya
saja, jika berpecah, mustahil, bangsa Melayu tumbuh menjadi bangsa yang
besar.
Aksi ingin mengajak perang dengan Malaysia, pelemparan
kotoran ke Kedutaan Malaysia, sweeping warga Malaysia pasti akan
menyakitkan hati dan membuat hubungan bukan makin mendekat, tapi malah
menjauh.
Walaupun gerakan LSM Bendera tidak mewakili gerakan
orang-orang cerdas di Indonesia, seperti Senat Mahasiswa, Muhammadiyah,
ICMI, HMI, dll., namun warga Indonesia harus lebih peka dan mencari
tahu, siapakah LSM ini? Ada apa di balik agenda mereka?
Apakah mereka bergerak untuk kepentingan partai politik tertentu, ataukah untuk
menaikkan partai dan pemimpin tertentu, ataukah mereka dibiayai oleh
pihak asing untuk menghancurkan rumpun Melayu?
Di sisi lain, biasanya, isu-isu yang akan memungkinan pecahnya hubungan
Malaysia-Indonesia jarang ditanggapi dan dibesar-besarkan media
Malaysia. Namun akhir-akhir ini, khususnya pemberitaan ‘ketegangan’
hubungan Indonesia-Malaysia, ditanggapi berbagai pihak. Termasuk pakar
politik di berbagai media massa
Di saat yang sama, sudah ratusan kali pasir kita dicuri, minyak kita diselundupkan, tapi kenapa kita selama ini tidak membenci Singapura yang menguras minyak kita
dengan Caltexnya? yang menguras gas kita dengan Harunnya dan
sebagainya, tanpa memberikan dampak yang berarti terhadap pembangunan,
ekonomi dan sosial rakyat?
Kebanyakan koruptor Indonesia pun bermukim di Singapura setelah merampok uang hasil keringat anak-anak Indonesia dan rakyat jelata.
Singapura adalah sekutu zionis. Mereka tidak mau menandatangani perjanjian extradisi dengan Indonesia semata-mata melindungi koruptor ini karena mereka bawa banyak uang ke Singapura.
Untuk mengalihkan isu ini dari masyarakat Indonesia, mereka akan coba cari isu supaya masyarakat Indonesia lebih fokus pada isu yang mereka cipta.
Maka diwujudkanlah isu sekarang, konfrontasi Malaysia-Indonesia. Melalui media sekular di Negara ini, mereka terus berupaya agar rumpun Melayu bangga akan identitas negara-nya masing-masing.
Profesor Singapura menulis dalam sebuah artikelnya; Kebanyakan rumah
mewah yang ada di Singapura, Kebanyakan uang yang beredar di Singapura
adalah punya orang Indonesia. Kebanyakan pembangunan yang ada di
Singapura, dibangun dari uang yang datangnya dari Indonesia. Dan di saat
Singapura mengadakan Grand Sale setiap tahunnya, lebih 2 juta orang
Indonesia datang belanja ke sana..”
Apa yang sebenarnya kita dapatkan dari Singapura?
Pertama,
TKI laki-laki dari Indonesia diharamkan bekerja dan mencari nafkah di
Singapura seperti di bidang pembangunan, kuli kasar, buruh dan
sebagainya. Singapura lebih memilih warga negara lain daripada WNI,
dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal.
Kedua,
banyak orang mengatakan dan dari sumber lainnya, “Satu per satu
pulau-pulau kecil di Riau hilang karena pasirnya diangkut ke Singapura.
Ketiga,
identitas orang Melayu yang identik dengan Islam seperti istana, rumah,
perkampungan orang Melayu, dihilangkan. Adat dan budaya melayu
dimuseumkan. Azan diharamkan menggunakan pengeras suara di semua masjid
dan surau di Singapura.
Keempat, pemerintah Singapura melayani dan melindungi koruptor RI yang telah membuat rakyat RI sengsara selama ini (karena hak-hak rakyat untuk mendapatkan
pendidikan, rumah sakit, infrastruktur, makan dan tempat tinggal yang
baik terjajah dan terzalimi), dengan tidak mau menandatangani perjanjian
ekstradisi.
Kelima, banyak rakyat, nelayan dan
petugas kita diacungi senjata berat dan diusir dengan pengeras suara
karena disangka telah melintasi garis batasan laut kepunyaan Singapura.
Malaysia Lebih Baik dari Singapura
“Sejahat” apapun Malaysia, saat ini ada 2 juta orang lebih WNI yang sedang
mencari rezeki di Malaysia untuk nafkah keluarga mereka di RI.
Triliyunan uang TKI dikirim ke Indonesia setiap tahunnya. Dapat
dibayangkan, bagaimana dampak sosial, ekonomi dan budaya yang akan
berlaku di Indonesia kalau TKI pulang sekaligus.
Faktanya,
TKI-lah sebenarnya “pahlawan” yang harus dilindungi, karena mereka
penyumbang devisa negara. Di saat lain, ada banyak institusi yang
keberadaannya hanya menghambur-hamburkan uang negara. Kegunaan mereka
sangat perlu dipertanyakan di saat keberadaan mereka tidak memberikan
manfaat yang berarti kepada rakyat. Ibarat pepatah Arab, ”wujuduhu ka adamihi.” (adanya seperti tidak adanya). Dengan kata lain, ada atau tidak adanya mereka, sama saja. Tak memberi manfaat.
Apakah kita akhirnya memutuskan “berperang” dengan Malaysia?
Apakah kita tetap ngotot mengajak perang
dengan Negara yang di dalamnya banyak keturunan Melayu Riau, Palembang,
Aceh, Bugis, Minang, Mandailing, Rao, Jambi, Kerinci, Jawa, karena kita
seagama Islam dan satu rumpun melayu?
Apakah kita takut pada Singapura
karena mereka memiliki peralatan perang yang sangat canggih dan jauh
meninggalkan Indonesia? Ataukah kita sengaja dibuat takut, karena para
pejabat kita banyak yang memiliki hubungan mesra dengan Singapura yang
menyimpan uang mereka dalam bentuk saham dan investasi?.
Malaysia secara tidak resmi telah melarang rakyatnya datang ke Indonesia. Kalau
ini berlanjut, pasti semua ini akan memberikan pengaruh terhadap
perusahaan penerbangan, hotel, pariwisata, tempat berbelanja, investor
di Indonesia.
Kalau sengketa ini berlanjut di tingkat pemerintah,
maka akan sama-sama kita dengar, tiga, lima bulan lagi.
Malaysia akan membeli peralatan perang yang baru, Amerika pula akan
menawarkan “jasanya” pada TNI untuk memberikan pinjaman utang, untuk
membeli peralatan perangnya yang katanya, harga sebuah kapal perang
bekas saja, sama dengan harga sebuah pulau besar di Indonesia.
Namun sebelum itu terjadi, ada sebuah pesan dari al-Quran.
“Sesungguhnya orang beriman itu adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara
kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah semoga kamu mendapat
rahmat.” (QS: al-Hujurat ayat 10)
Salam dari Indonesia untuk saudaraku di Malaysia
Monday, January 9, 2012
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



No comments:
Post a Comment