Hemat Pangkal Kaya, Kata Guru Saya
Waktu kita SD mungkin salah satu yang pribahasa yang paling kita bicarakan adalah hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai. Dalam artikel ini mungkin saya hanya fokus pada rajin pangkal kaya. Guru saya berkali – kali mengulangnya, sampai saya diwajibkan punya celengan. Tapi dari dulu yang saya bingung : Guru saya tidak kaya. Apakah dia tidak hemat ? Setelah besar seiring perjalanan hidup ada berebapa fakta yang kita temukan dalam kehidupan sehari – hari yang menjadikan pribahasa tersebut sulit dilaksanakan.
Fakta 1# Orang hemat sangat sedikit yang kaya. Efesien yang membuat orang kaya
Apakah anda percaya kalau saya bilang bahwa Aburizal Bakrie adalah orang yang hemat ? Saya mungkin tidak kenal, tapi saya yakin dia termasuk orang yang royal, jauh dari hemat. Sulit dipercaya orang dapat menjadi orang terkaya di Indonesia dengan cara berhemat. Hemat biasanya diinterprestasikan sebagai menabung. Orang kaya tidak menabung tetapi selalu memutarkan uangnya dan banyak melakukan pengeluaran – pengeluaran yang dapat dikategorikan boros, contohnya untuk biaya entertaiment. Hemat pangkal kaya dala argumen ini kurang tepat, yang tepat untuk kaya adalah mempekerjakan uang kita. Baik itu untuk investasi, membentuk citra, menambah ilmu, dll. Hemat saja tidaklah cukup.
Fakta 2# Sulit menabung dalam berkerluarga
Saya sebelum menikah boleh mengaku milyader walau cuman pas-pasan, sehabis menikah hanya butuh 6 bulan turun jadi jutawan alias hanya punya Rp 1.750.000 di tengah bulan. Mau salah siapa ? harus beli rumah, harus isi rumah, biaya pernikahan, jadilah saya jutawan pas-pasan. Yang saya alami berikutnya adalah menabung bulanan jauh berkurang, karena yang namanya pengeluaran ada saja, sehingga saya sampai berkesimpulan bahwa bank hanya tempat mengambil uang, bukan menyimpan uang.
Mungkin kebanyakan dari kita merasakannya. Mengapa ? menikah memiliki banya kepala, bukan hanya banya kebutuhan tapi juga banyak keinginan. Yang paling berbahaya adalah keinginan. Berhubung dalam berkeluarga jumlah kepala bertambah, keinginan pastilah juga bertambah. Yang ada akhirnya bersahabat dengan kartu kredit. Solusinya adalah memaksakan diri dengan investasi, baik investasi rumah dengan bentuk cicilan rumah, atau investasi dalam bentuk reksadana atau unit link. Kalau kita tidak memaksakan diri, dijamin keinginan yang menang. Keinginan sahabat dekat kartu kredit.
Pada akhirnya kita harus menyadari menabung atau hemat bukanlah cara yang tepat untuk menjadi kaya. Investasi baik dalam bentuk bisnis, aset, saham, unit link adalah cara yang tepat untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang kita inginkan. Jangan taruh uang ditabung, keinginan akan selalu menghantui kita, dan menjerat kita ketika lemah. Hemat pangkal kaya ? ada benarnya tapi jangan berhenti pada hemat, pekerjakan uang kita.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



No comments:
Post a Comment