Wednesday, September 9, 2009

JANGAN DITUNDA LAGI

JANGAN DITUNDA LAGI


If not now when, if not we who else ..."
kalimat yang pernah dilontarkan mantan Presiden
Amerika Serikat, Ronald Reagan pada satu kesempatan
pidatonya saat ia menduduki jabatan paling bergengsi
di Amerika itu, jabatan yang juga bergengsi di setiap
negara tentunya. Kurang lebih, kalimat tersebut
bermakna bahwa segala sesuatunya harus dikerjakan
sekarang, saat ini juga karena belum tentu ada
kesempatan kedua untuk melakukannya, dan kitalah juga
yang harus melakukan hal tersebut, jangan berharap
kepada orang lain.
Tentu saja, jauh sebelum si Cowboy AS itu mengucapkan
kalimat yang sebenarnya tidak terlalu terkenal itu,
Muhammad Saw, manusia mulia yang menempati urutan
nomor wahid dalam deretan 100 tokoh paling berpengaruh
di dunia yang ditulis Michael H Hartz, mengucapkan
kalimat yang jauh lebih populer, "Gunakanlah waktu
lapangmu sebelum datang sempitmu ...". Juga ada satu
ungkapan hikmah yang terkenal, "Bekerjalah kamu seolah
kamu akan hidup selama-lamanya dan beribadahlah seolah
kamu akan mati besok". Ada garis persamaan yang bisa
ditarik, meski ketiga kalimat diatas sebenarnya tidak
terlalu berhubungan, tapi ketiganya sangat berhubungan
dengan bagaimana kita memanfaatkan waktu sebaik
mungkin.
Sesuai dengan sifatnya, waktu yang akan selalu
bergerak maju, -karena tak pernah ada waktu yang bisa
diulang seperti dalam film Quantum Leap yang
dibintangi oleh Cliff Baker- maka tak mengherankan
jika Allah melabeli "orang merugi" bagi mereka yang
tidak memanfaatkan waktunya dengan baik dan tepat.
Karena sifatnya yang tidak bisa diulang itulah, maka
kita seharusnya mengambil setiap kesempatan sesempit
apapun yang datang, agar setiap waktu yang terlewati
itu terisi dengan hal-hal bermakna dalam hidup kita.
Dalam surat yang sama (al Ashr) diperingatkan pula
tentang sifat waktu yang lain, betapa waktu yang
berjalan itu juga begitu singkat menghampiri kita.
Manusia yang lalai, malas dan tidak menghargai waktu,
tentu masuk dalam kategori "merugi" tadi.
Pada kenyataannya, jika kita mau sejenak saja menengok
ke belakang, maka akan kita sadari -lebih ekstrimnya
kita sesali- karena begitu banyaknya waktu yang
terlewati dengan sia-sia, sungguh tak terhitungnya
kesempatan berlalu yang hampa makna seolah waktu yang
diberikan Allah begitu tak berarti, bahkan seringkali
tak bernilai sama sekali. Tentu saja, setelah
menyadari -atau menyesali- kenyataan waktu yang sudah
terlewati itu, dua bibir ini secara refleks membentuk
huruf "O" seraya mengeluarkan kata "Ooh". Mungkin ada
yang lebih parah lagi, ini sangat tergantung pada
seberapa menyesalnya kita atas berbagai kesempatan
yang tersia-siakan itu, maka jari telunjuk pun segera
nangkring diantara gigi atas dan bawah kita.
Sepantasnya kita menangis tatkala menyesali semua itu,
namun apa manfaatnya? biarlah yang berlalu itu
dijadikan pelajaran yang berharga bagi kita untuk
tidak tersudutkan pada predikat 'bodoh', karena konon,
orang bodoh adalah orang yang mengulangi kesalahan
yang sama, dia bodoh karena tidak belajar dari
kesalahan pertamanya, hanya itu. Toh, saat ini kita
masih punya waktu, entah sampai kapan Dia memberikan
waktu ini, who knows? Tapi yang jelas, dengan berbekal
satu tekad, "Hari ini harus lebih baik dari kemarin"
maka melangkahlah kita untuk memulai hari-hari,
menggunakan waktu dan kesempatan yang tersedia didepan
kita sebaik mungkin, seefektif mungkin, seefisien
mungkin agar kelak ada yang bisa kita ceritakan dengan
bangga -tanpa bertepuk dada- kepada anak cucu kita.

No comments:

Post a Comment