Waktu cepat berlalu, tak terasa hampir tengah malam. Segera bergegas pulang agar tak ketinggalan kereta. Suasana stasiun masih tampak ramai dengan orang-orang Jepang yang baru saja pulang bekerja. Mereka memang terbiasa bekerja keras, tak peduli siang atau pun malam. Terlihat semua rapih berbaris membentuk tiga barisan setiap kelompoknya. Saat kereta tiba, mereka pun dengan tertib masuk tanpa harus rebutan setelah penumpang di dalam keluar.
Fuih...
Setiap gerbong penuh sesak dengan manusia, bercampur baur dengan segala aroma. Tampak mereka asyik dengan kesibukannya, membaca atau bermain game di telepon genggam. Beberapa anak muda berambut pirang dengan asyik menggoyang-goyangkan kepala, mengikuti irama musik dari earphone yang tergantung di telinganya. Aih... aih... di pojok sana juga terlihat sepasang muda mudi yang sedang berpelukan dengan mesra.
Ups...!!!
Tidak semuanya tampak manis. Beberapa orang matanya tampak merah, kadang meracau tak karuan. Mereka menumpukan tubuhnya pada tsurikawa yang banyak bergelantungan, berayun-ayun mengikuti laju kereta. Hmm... aroma alkohol pun meruap dari celah-celah giginya. Kadang terlihat tatapan nanar mata kosong itu memandang sekelilingnya. Namun bola mata itu berhenti saat melihat seorang josei-shain. Matanya yang sipit membesar seperti srigala yang hendak melahap mangsa. Beberapa orang terlihat berusaha menghindar, namun ada juga yang tak peduli dengan tingkah polahnya.
Syukurlah, tiba saatnya harus ganti kereta. Lalu aku segera keluar di sebuah stasiun untuk menunggu kereta berikutnya. Sepasang kakiku pun berjalan-jalan sekedar mengusir rasa dingin dan bosan.
Huwaaa...!!!
Hampir saja kaki menginjak bekas muntahan. Iih... jorok dan langsung menghindar. Tak beberapa jauh kembali berteriak tertahan, bekas muntahan, tampak tercecer di mana-mana.
Hoek... hoek...!!!
Grmhhh..., itu biang keladinya. Ternyata mereka tak hanya membuat resah di gerbong kereta, namun ada pula di mana-mana. Terlihat ia terbaring di deretan kursi plastik, dikelilingi bekas muntahan isi perutnya yang masih tampak basah. Kembali ia muntah, hingga tak urung mulut, leher serta jas yang tampak mahal itu juga berlepotan. Tak ada yang peduli, hanya tatapan jijik.
"Kare ha sake o nomisugite, haita," gumam seorang wanita paruh baya, lalu bersikap apa adanya.
Aku beranjak pergi dan menatapnya dari kejauhan. Namun angin membawa sisa makian ke telinga ketika beberapa petugas stasiun menghampiri dan berusaha mengangkutnya. Entah apa yang dikatakan, tapi yang pasti ia tampak meronta-ronta, dan angin kembali menerbangkan makiannya ke segala arah.
Pikiranku melayang-layang, teringat kisah seorang ahli ibadah yang pernah diceritakan khalifah Utsman bin Affan radiyallahu 'anhu dalam sebuah khutbahnya. Seorang lelaki shaleh yang selalu tekun beribadah ke mesjid, hingga tibalah suatu hari ia berkenalan dengan wanita cantik. Sang abid pun jatuh hati, tunduk pada setiap perintah lalu minum khamr yang dikiranya hanya berdosa kecil daripada berzina atau membunuh bayi. Ia akhirnya mabuk, hilang akal dan lupa diri sehingga berzina dengan wanita cantik serta membunuh bayi yang tak berdosa itu.
Karenanya sang khalifah pun berpesan, "Jauhilah khamr, karena minuman itu adalah biang keladi segala kejahatan dan perbuatan dosa. Ingatlah, iman dan khamr tak mungkin bersatu dalam tubuh manusia. Salah satu di antaranya harus keluar. Orang yang mabuk mulutnya akan mengeluarkan kata-kata kufur, dan jika menjadi kebiasaan hingga akhir hayatnya, ia akan kekal di neraka."
"Mamonaku densha ga mairimasu, abunai desu kara gochuui kudasai..."
Ups...!!!
Terdengar pemberitahuan bahwa kereta akan segera tiba. Aku pun segera antri dan berdesak-desakan kembali. Dari balik kaca jendela kulihat ia masih tampak meronta-ronta, bahkan mengibaskan tas kerja kemana-mana. Marah kepada orang-orang yang mengerumuninya.
Seiring laju kereta yang membawaku semakin jauh, dalam hati aku berkata, "Duuh... Allah, tak berhingga syukur kepada-Mu, karena masih Kau dekap aku dalam cinta."
ALlahu a'lam bish-shawab.
-Abu Aufa-
Catatan :
- Tsurikawa : tali yang ujungnya ada gelang untuk bergantung.
- Josei-shain : karyawati.
- Kare ha sake o nomisugite, haita : laki-laki itu terlalu banyak minum sake sehingga muntah.
- Mamonaku densha ga mairimasu, abunai desukara gochuui kudasai : karena berbahaya, berhati-hatilah, kereta akan segera tiba.
Fuih...
Setiap gerbong penuh sesak dengan manusia, bercampur baur dengan segala aroma. Tampak mereka asyik dengan kesibukannya, membaca atau bermain game di telepon genggam. Beberapa anak muda berambut pirang dengan asyik menggoyang-goyangkan kepala, mengikuti irama musik dari earphone yang tergantung di telinganya. Aih... aih... di pojok sana juga terlihat sepasang muda mudi yang sedang berpelukan dengan mesra.
Ups...!!!
Tidak semuanya tampak manis. Beberapa orang matanya tampak merah, kadang meracau tak karuan. Mereka menumpukan tubuhnya pada tsurikawa yang banyak bergelantungan, berayun-ayun mengikuti laju kereta. Hmm... aroma alkohol pun meruap dari celah-celah giginya. Kadang terlihat tatapan nanar mata kosong itu memandang sekelilingnya. Namun bola mata itu berhenti saat melihat seorang josei-shain. Matanya yang sipit membesar seperti srigala yang hendak melahap mangsa. Beberapa orang terlihat berusaha menghindar, namun ada juga yang tak peduli dengan tingkah polahnya.
Syukurlah, tiba saatnya harus ganti kereta. Lalu aku segera keluar di sebuah stasiun untuk menunggu kereta berikutnya. Sepasang kakiku pun berjalan-jalan sekedar mengusir rasa dingin dan bosan.
Huwaaa...!!!
Hampir saja kaki menginjak bekas muntahan. Iih... jorok dan langsung menghindar. Tak beberapa jauh kembali berteriak tertahan, bekas muntahan, tampak tercecer di mana-mana.
Hoek... hoek...!!!
Grmhhh..., itu biang keladinya. Ternyata mereka tak hanya membuat resah di gerbong kereta, namun ada pula di mana-mana. Terlihat ia terbaring di deretan kursi plastik, dikelilingi bekas muntahan isi perutnya yang masih tampak basah. Kembali ia muntah, hingga tak urung mulut, leher serta jas yang tampak mahal itu juga berlepotan. Tak ada yang peduli, hanya tatapan jijik.
"Kare ha sake o nomisugite, haita," gumam seorang wanita paruh baya, lalu bersikap apa adanya.
Aku beranjak pergi dan menatapnya dari kejauhan. Namun angin membawa sisa makian ke telinga ketika beberapa petugas stasiun menghampiri dan berusaha mengangkutnya. Entah apa yang dikatakan, tapi yang pasti ia tampak meronta-ronta, dan angin kembali menerbangkan makiannya ke segala arah.
Pikiranku melayang-layang, teringat kisah seorang ahli ibadah yang pernah diceritakan khalifah Utsman bin Affan radiyallahu 'anhu dalam sebuah khutbahnya. Seorang lelaki shaleh yang selalu tekun beribadah ke mesjid, hingga tibalah suatu hari ia berkenalan dengan wanita cantik. Sang abid pun jatuh hati, tunduk pada setiap perintah lalu minum khamr yang dikiranya hanya berdosa kecil daripada berzina atau membunuh bayi. Ia akhirnya mabuk, hilang akal dan lupa diri sehingga berzina dengan wanita cantik serta membunuh bayi yang tak berdosa itu.
Karenanya sang khalifah pun berpesan, "Jauhilah khamr, karena minuman itu adalah biang keladi segala kejahatan dan perbuatan dosa. Ingatlah, iman dan khamr tak mungkin bersatu dalam tubuh manusia. Salah satu di antaranya harus keluar. Orang yang mabuk mulutnya akan mengeluarkan kata-kata kufur, dan jika menjadi kebiasaan hingga akhir hayatnya, ia akan kekal di neraka."
"Mamonaku densha ga mairimasu, abunai desu kara gochuui kudasai..."
Ups...!!!
Terdengar pemberitahuan bahwa kereta akan segera tiba. Aku pun segera antri dan berdesak-desakan kembali. Dari balik kaca jendela kulihat ia masih tampak meronta-ronta, bahkan mengibaskan tas kerja kemana-mana. Marah kepada orang-orang yang mengerumuninya.
Seiring laju kereta yang membawaku semakin jauh, dalam hati aku berkata, "Duuh... Allah, tak berhingga syukur kepada-Mu, karena masih Kau dekap aku dalam cinta."
ALlahu a'lam bish-shawab.
-Abu Aufa-
Catatan :
- Tsurikawa : tali yang ujungnya ada gelang untuk bergantung.
- Josei-shain : karyawati.
- Kare ha sake o nomisugite, haita : laki-laki itu terlalu banyak minum sake sehingga muntah.
- Mamonaku densha ga mairimasu, abunai desukara gochuui kudasai : karena berbahaya, berhati-hatilah, kereta akan segera tiba.



No comments:
Post a Comment